Vitamin A Pada Ibu Nifas

Tanggal 12 Januari 2010



Pentingnya Vitamin A bagi Ibu Nifas

Pemberian kapsul vitamin A ibu nifas (melahirkan) memiliki manfaat penting bagi ibu dan bayi yang disusuinya. Tambahan vitamin A melalui suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh, dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak. Oleh sebab itu, pemerintah di tingkat kabupaten dapat meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak dengan cara memperkuat program vitamin A ibu nifas.
Pentingnya Vitamin A
Vitamin A telah diketahui dapat melindungi timbulnya komplikasi berat pada penyakit yang biasa terjadi pada anak-anak seperti campak dan diare, dan juga berfungsi melindungi mata dari Xeropthalmia dan buta senja.
Pada ibu hamil dan menyusui, Vitamin A berperan penting untuk memelihara kesehatan ibu selama masa kehamilan dan menyusui. Buta senja pada ibu menyusui, suatu kondisi yang kerap terjadi karena Kurang Vitamin A (KVA).
Berhubungan erat dengan kejadian anemia pada ibu, kekurangan berat badan, kurang gizi, meningkatnya risiko infeksi dan penyakit reproduksi, serta menurunkan kelangsungan hidup ibu hingga dua tahun setelah melahirkan.
Semua anak, walaupun mereka dilahirkan dari ibu yang berstatus gizi baik dan tinggal di negara maju, terlahir dengan cadangan vitamin A yang terbatas dalam tubuhnya (hanya cukup memenuhi kebutuhan untuk sekitar dua minggu). Di negara berkembang, pada bulan-bulan pertama kehidupannya, bayi sangat bergantung pada vitamin A yang terdapat dalam ASI. Oleh sebab itu, sangatlah penting bahwa ASI mengandung cukup vitamin A.
Anak-anak yang sama sekali tidak mendapatkan ASI akan berisiko lebih tinggi terkena Xeropthalmia dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan ASI walau hanya dalam jangka waktu tertentu. Berbagai studi yang dilakukan mengenai Vitamin A ibu nifas memperlihatkan hasil yang berbeda-beda.
Tetapi, sebuah studi yang dilakukan pada anak-anak usia enam bulan yang ibunya mendapatkan kapsul vitamin A setelah melahirkan, menunjukkan bahwa terdapat penurunan jumlah kasus demam pada anak-anak tersebut dan waktu kesembuhan yang lebih cepat saat mereka terkena ISPA.
Ibu hamil dan menyusui seperti halnya juga anak-anak, berisiko mengalami KVA karena pada masa tersebut ibu membutuhkan vitamin A yang tinggi untuk pertumbuhan janin dan produksi ASI.
Rabun senja merupakan indikator fungsional yang penting dari masalah KVA. Pada anak-anak pra-sekolah, tingkat rabun senja diatas 1 % merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dengan menggunakan ambang batas yang sama untuk wanita yang tidak hamil, data terbaru dari survey sistem pemantauan status gizi dan kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah RI dan Helen Keller Internasional (HKI) menunjukkan bahwa banyak provinsi di Indonesia memiliki tingkat rabun senja diatas 2 % pada ibu tidak hamil.
Bahkan, di daerah kumuh perkotaan di Makassar, hampir 10 % dari ibu tidak hamil mengalami rabun senja. Tingginya prevalensi tersebut menunjukkan bahwa KVA merupakan masalah potensial bagi ibu serta bayi yang disusuinya di Indonesia.
Penanggulangan KVA Pada Ibu Menyusui
KVA dapat ditanggulangi dengan berbagai cara, seperti forfikasi berbagai produk makanan, peningkatan ketersediaan dan konsumsi makanan yang mengandung vitamin A melalui pemanfaatan pekarangan, serta dengan suplementasi. Vitamin A ditemukan pada makanan yang biasa dikonsumsi di Indonesia, seperti telur, hati, buah-buahan berwarna oranye, seperti mangga dan papaya masak, serta sayuran berdaun hijau.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan asupan vitamin A adalah dengan menggalakkan promosi sumber makanan-makanan tersebut. Selain itu, beberapa produsen makanan saat ini secara sukarela telah memfortifikasi produk tertentu seperti beberapa merk mie instant, makanan ringan serta susu bubuk dengan vitamin A.
Namun, setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998, banyak keluarga tidak lagi mampu menyediakan makanan bergizi, termasuk makanan yang mengandung vitamin A, baik dari sumber alami maupun fortifikasi. Program suplementasi vitamin A untuk balita masih merupakan faktor penting dalam memelihara status vitamin A pada anak balita.
Di Indonesia, program suplementasi kapsul vitamin A telah berhasil menjangkau anak balita usia 6-59 bulan dengan cakupan yang meningkat dari dibawah 50 % di beberapa provinsi pada tahun 1999 hingga mencapai lebih dari 70 % pada tahun 2002 di banyak provinsi.
Manfaat Suplementasi Vitamin A
Berbeda dengan hampir semua komponen dalam ASI, yang secara relatif ada dalam jumlah yang sama, konsentrasi vitamin A dalam ASI sangat bergantung pada status gizi ibu. Pemberian kapsul vitamin A pada ibu setelah melahirkan dapat meningkatkan status vitamin A dan jumlah kandungan vitamin tersebut dalam ASI.
Rendahnya status vitamin A selama masa kehamilan dan menyusui berasosiasi dengan rendahnya tingkat kesehatan ibu. Pemberian suplementasi vitamin A dosis rendah setiap minggunya, sebelum kehamilan, pada masa kehamilan serta setelah melahirkan telah menaikkan konsentrasi serum retinol ibu, menurunkan penyakit rabun senja, serta menurunkan mortalitas yang berhubungan dengan kehamilan hingga 40 %.
Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkan jumlah kandungan vitamin A dalam ASI, sehingga akan meningkatkan status vitamin A pada bayi yang disusuinya. ASI merupakan sumber utama vitamin A bagi bayi pada enam bulan kehidupannya dan merupakan sumber yang penting hingga bayi berusia dua tahun.
Pedoman Internasional Pemberian Vitamin A
Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Group (IVACG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima 400.000 SI atau dua kapsul dosis tinggi @ 200,000 SI. Pemberian kapsul pertama dilakukan segera setelah melahirkan dan kapsul kedua diberikan satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian.
Sebagai tambahan atau sebagai alternatif, ibu pasca melahirkan dapat mengkonsumsi vitamin A dosis 10.000 SI setiap harinya atau 25.000 SI sekali seminggu selama 6 bulan pertama, guna meningkatkan status vitamin A dalam tubuhnya. Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang melaksanakan studi operasional untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis 2 X 200.000 SI pada ibu nifas.

KONSEP BALITA

2 Jan 2011
1. Pengertian Balita 
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006). Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010),  Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun).  Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode
selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan. 
2. Karakteristik Balita 
Menurut karakteristik, balita terbagi dalam dua kategori yaitu anak usia 1  – 3 tahun (batita) dan anak usia prasekolah (Uripi, 2004).  Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar dari masa usia pra-sekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif besar. Namun perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu diterimanya dalam sekali makan lebih kecil dari anak yang usianya lebih besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering Pada usia pra-sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih  makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau bersekolah  playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan “tidak” terhadap setiap ajakan. Pada masa ini berat badan anak cenderung mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun penolakan terhadap makanan. Diperkirakan pula bahwa anak perempuan relative lebih banyak mengalami gangguan status gizi bila dibandingkan dengan anak laki-laki.
3. Tumbuh Kembang Balita
Secara umum tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda, namun prosesnya senantiasa melalui tiga pola yang sama, yakni:
a. Pertumbuhan dimulai dari tubuh bagian atas menuju bagian bawah (sefalokaudal). Pertumbuhannya dimulai dari kepala hingga ke ujung  kaki, anak  akan berusaha menegakkan tubuhnya, lalu dilanjutkan belajar
menggunakan kakinya.
b. Perkembangan dimulai dari batang tubuh ke arah luar. Contohnya adalah anak akan lebih dulu menguasai penggunaan  telapak tangan untuk menggenggam, sebelum ia mampu meraih benda dengan jemarinya.
c. Setelah dua pola di atas dikuasai, barulah anak belajar  mengeksplorasi keterampilan-keterampilan lain. Seperti melempar, menendang, berlari dan lain-lain. 
Menurut Soetjiningsih (2005) walaupun terdapat variasi yang besar, akan tetapi setiap anak akan melewati suatu pola tertentu yang merupakan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :
a.    Masa prenatal atau masa intrauterin ( masa janin dalam kandungan )
1)   Masa mudigah/embrio : konsepsi sampai 8 minggu2)   Masa janin/fetus : 9 minggu sampai lahirb.    Masa bayi : usia 0 sampai 1 tahun
1)   Masa neonatal : usia 0 sampai 28 hari yang terdiri dari masa neonatal dini yaitu 0-7 hari dan masa neonatal lanjut yaitu 8-28 hari2)   Masa pasca neonatal : 29 hari sampai 1 tahunc.    Masa prasekolah (usia 1 sampai 6 tahun)
Klasifikasi umur balita menurut Murwani (2009) yaitu:a.    Masa prenatal yang terdiri dari dua periode yaitu masa embrio dan masa fetus (usia 0-9 bulan)
b.    Masa neonatal (0-28 hari)
c.    Masa bayi (29 hari-1 tahun)
d.   Masa batita (1-3 tahun)
Masa balita (3-5 tahun).

EFEKTIVITAS POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP
KEBERHASILAN TOILET TRAINING DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEJADIAN ENURESIS PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (4-6 TAHUN) DI TK WAHID HASYIM MALANG
Undergraduate Theses from JIPTUMMPP / 2006-09-18 10:20:16
Oleh : WIDA SRI USTARI (03010008), Nursing
Dibuat : 2006-09-18, dengan 3 file

Keyword : Pola Asuh Orang Tua, Pendidikan, Pengetahuan, Toilet training, Usia prasekolah, Keberhasilan.
Url : http://
Latar Belakang: Toilet training merupakan usaha orang tua melatih agar anak dapat mengurusi diri sendiri saat buang air besar atau kecil. Namun sekitar 44 % anak masih mengalami permasalahan buang air kecil (enuresis atau mengompol),
sehingga dari masalah tersebut pola asuh orang tua melatarbelakanginya padahal pengeluaran air kemih merupakan suatu proses yang dapat dikendalikan baik waktu dan tempatnya sehingga anak yang bermasalah dengan toilet training dapat
disebabkan oleh orang tua maupun kesiapan anak sendiri yang kurang. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bermaksud untuk memaparkan atau mendeskripsikan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training. Pengambilan sampel secara sampling aksidental yaitu 40 orang tua dari anak usia 4-6 tahun yang belajar di TK Wahid Hasyim Malang,bersedia
menjadi responden dan sesuai dengan keinginan peneliti. Pola asuh orang tua dan
keberhasilan toilet training diukur dengan menggunakan kuesioner kemudian disimpulkan berdasarkan keterangan dengan analisa deskriptif. Dan hasil dari penelitian ini adalah bahwa kategori dengan pola asuh orang tua autoritatif didapatkan sebanyak 85 % dengan toilet training berhasil dan 15 % dengan toilet
training tidak berhasil, dan tidak didapatkan pola asuh orang tua yang otoriter,
pemanja, ataupun penelantar, dari segi pendidikan didapat sebanyak 64,3% orang tua yang berpendidikan tinggi berhasil melakukan toilet training dalam upaya pencegahan enuresis, dari segi pengetahuan didapat sebanyak 73% yang berhasil toilet training dalam upaya pencegahan kejadian enuresis pada anak, sehingga dari keterangan tersebut dapat diperolehkesimpulan bahwa pola asuh orang tua autoritatif lebih efektif terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah(4-6 tahun ) di TK Wahid Hasyim Malang.
Deskripsi Alternatif :

Latar Belakang: Toilet training merupakan usaha orang tua melatih agar anak dapat mengurusi diri sendiri saat buang air besar atau kecil. Namun sekitar 44 % anak masih mengalami permasalahan buang air kecil (enuresis atau mengompol),
sehingga dari masalah tersebut pola asuh orang tua melatarbelakanginya padahal pengeluaran air kemih merupakan suatu proses yang dapat dikendalikan baik waktu dan tempatnya sehingga anak yang bermasalah dengan toilet training dapat
disebabkan oleh orang tua maupun kesiapan anak sendiri yang kurang. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bermaksud untuk memaparkan atau mendeskripsikan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training. Pengambilan sampel secara sampling aksidental yaitu 40 orang tua dari anak usia 4-6 tahun yang belajar di TK Wahid Hasyim Malang,bersedia
menjadi responden dan sesuai dengan keinginan peneliti. Pola asuh orang tua dan
keberhasilan toilet training diukur dengan menggunakan kuesioner kemudian disimpulkan berdasarkan keterangan dengan analisa deskriptif. Dan hasil dari penelitian ini adalah bahwa kategori dengan pola asuh orang tua autoritatif didapatkan sebanyak 85 % dengan toilet training berhasil dan 15 % dengan toilet
training tidak berhasil, dan tidak didapatkan pola asuh orang tua yang otoriter,
pemanja, ataupun penelantar.sehingga dari keterangan tersebut dapat diperoleh
kesimpulan bahwa pola asuh orang tua autoritatif lebih efektif terhadap keberhasilan toilet training pada anak usia prasekolah(4-6 tahun ) di TK Wahid Hasyim Malang.


Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, Informasi, Perilaku dan Higiene Perorangan dengan Kejadian Vaginitis Pada Ibu Di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang Tahun 2009

Chaira Chofifah, 6537762009 (2009) Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, Informasi, Perilaku dan Higiene Perorangan dengan Kejadian Vaginitis pada Ibu Di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang Tahun 2009. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.
PDF (Hubungan Tingkat Pengetahuan, Pendidikan, Informasi, Perilaku dan Higiene Perorangan dengan Kejadian Vaginitis pada Ibu Di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang Tahun 2009) - Published Version
Restricted to Registered users only

Request a copy

    Abstract

    Vaginitis banyak dialami oleh wanita termasuk dalam masa kehamilan dan mencapai sekitar 40 sampai 50% dari kasus pada perempuan usia reproduksi. Dari observasi awal melalui pengambilan data dari Griya ASA di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang, penyakit vaginitis menempati urutan pertama 42,85 % dari seluruh penyakit IMS yang ada di kelurahan Argorejo Kota Semarang. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, informasi, perilaku dan higiene perorangan dengan kejadian  vaginitis pada Ibu di kelurahan kalibanteng kulon  Kota Semarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, informasi, perilaku dan higiene perorangan, dengan kejadian  vaginitis pada Ibul di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah survey analytical method menggunakan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu di kelurahan Argorejo Semarang. Cara pengambilan sampel pada penelitian ini ditentukan dengan menggunakan Simple random sampling dan didapatkan jumlah sampel sebesar 35 responden. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner, alat swab vagina, mikroskop. Data primer diperoleh dengan cara pemeriksaan dan wawancara langsung. Data sekunder diperoleh dari Griya ASA PKBI Kota Semarang. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (menggunakan uji Fisher dengan derajat kemaknaan 0,05). Dari hasil uji Fisher diperoleh nilai signifikansi, p value tingkat pengetahuan 0,018 < 0,05 maka Ho ditolak sehingga ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian  vaginitis, p value pendidikan p = 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak sehingga ada hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan kejadian vaginitis, p value informasi p = 0,006 < 0,05 maka Ho ditolak sehingga ada hubungan yang bermakna antara informasi dengan kejadian vaginitis, p value perilaku p = 0,002 < 0,05 maka Ho ditolak sehingga ada hubungan yang bermakna antara perilaku dengan kejadian vaginitis, sedangkan p value Higiene perorangan p = 0,004 < 0,05 maka Ho diterima sehingga  ada hubungan yang bermakna antara higiene perorangan dengan kejadian vaginitis di kelurahan kalibanteng kulon Argorejo Kota Semarang. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian vaginitis, ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian vaginitis, ada hubungan antara informasi yang diterima ibu dengan kejadian vaginitis, ada hubungan antaraperilaku dengan kejadian vaginitis, ada hubungan yang bermakna antara higiene perorangan dengan kejadian vaginitis di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang. Saran yang dianjurkan untukibu diKelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang untuk selalumeningkatkan higiene perorangan, bagi unit pelayanan kesehatan untuk meningkatkan penyuluhan mengenai higiene peroranganibu agar tetap baik, dan bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan tema yang sama diharapkan dapat lebih baik lagi dan mencoba meneliti variabel lain yang berhubungan dengan menggunakan metode penelitian yang lain.

    Keberhasilan Laktasi

    Agustus 2011

    Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi, tidak satupun makanan lain yang dapat menggunakan ASI, karena ASI mempunyai kelebihan yang meliputi tiga aspek yaitu aspek gizi, aspek kekebalan dan aspek kejiwaan berupa jalinan kasih sayang penting untuk perkembangan mental kecerdasan anak (Depkes RI, 2005,p.1).

    Menyusui adalah suatu proses ilmiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI bahkan ibu yang buta huruf pun dapat menyusui anaknya dengan baik. Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami Roesli, 2009,p.2).

    Teknik menyusui merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ASI dimana bila teknik menyusui tidak benar, dapat menyebabkan puting susu lecet dan menjadikan ibu enggan menyusui sehingga bayi tersebut jarang menyusu. Enggan menyusu akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Namunsering kali ibu- ibu kurang mendapatkan informasi tentang manfaat ASI dan tentang menyusui yang benar (Utami Roesli, 2005, p.1).

    Menurut Maribeth Hasselqist (2006) Kendala terhadap pemberian ASI telah teridentifikasi, hal ini mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi dari pihak perawat kesehatan bayi, praktik-praktik rumah sakit yang merugikan seperti pemberian susu formula dan suplemen bayi tanpa kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada periode pasca kelahiran dini, kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham tentang cara menyusui yang benar, kegagalan menyusui sering dianggap sebagai problem pada anaknya saja. Selain itu ibu sering mengeluh bayinya sering

    menangis atau “menolak” menyusu, dan sebagainya yang sering diartikan bahwa ASI nya tidak cukup, atau ASI nya tidak enak, tidak baik ataupun pendapatnya sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui. Pada bayi masalah dalam menyusui yaitu sering menjadi “bingung puting” atau sering menangis, BB bayi turun, bahkan bisa menyebabkan bayi kuning (ikterik) karena bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. Dampak dari teknik menyusui yang salah pada ibu yaitu ibu akan mengalami gangguan proses fisiologis setelah melahirkan, sering kali ibu- ibu kurang mendapatkan informasi tentang manfaat ASI dan tentang menyusui yang benar (Utami Roesli, 2005, p.1).

    Menurut Maribeth Hasselqist (2006) Kendala terhadap pemberian ASI telah teridentifikasi, hal ini mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi dari pihak perawat kesehatan bayi, praktik-praktik rumah sakit yang merugikan seperti pemberian susu formula dan suplemen bayi tanpa kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada periode pasca kelahiran dini, kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena timbulnya beberapa masalah, baik masalah pada ibu maupun bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham tentang cara menyusui yang benar, kegagalan menyusui sering dianggap sebagai problem pada anaknya saja. Selain itu ibu sering mengeluh bayinya sering menangis atau “menolak” menyusu, dan sebagainya yang sering diartikan bahwa ASI nya tidak cukup, atau ASI nya tidak enak, tidak baik ataupun pendapatnya sehingga sering menyebabkan diambilnya keputusan untuk menghentikan menyusui. Pada bayi masalah dalam menyusui yaitu sering menjadi “bingung puting” atau sering menangis, BB bayi turun, bahkan bisa menyebabkan bayi kuning (ikterik) karena bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. Dampak dari teknik menyusui yang salah pada ibu yaitu ibu akan mengalami gangguan proses fisiologis setelah melahirkan, seperti puting susu lecet dan nyeri, payudara bengkak bahkan bisa sampai terjadi mastitis atau abses payudara dan sebagainya

    Dari hasil penelitian Winarno (1990), menggolongkan bahwa berbagai faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan laktasi yaitu, faktor ibu 39,7%, faktor bayi 36,7%, teknik menyusui 22,1%, faktor anatomis payudara 1,5%. Pada dasranya gangguan laktasi tersebut dapaat dicegah dan diatasi sehingga tidak menimbulkan kesukaran. Suatu contoh kasus misalnya sekitar 57% dari ibu menyusui menderita kelecetan putingnya.

    Hasil penelitian Dewi Masitoh (2009) bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu post partum primipara dengan teknik menyusui yang benar menunjukkan 42 responden didapatkan responden yang berpendidikan dasar (SD,SMP) sebanyak 8 responden (19%), yang berpendidikan tinggi sebanyak 2 responden (4,8%) dan sebagian besar responden berpendidikan menengah (SMA) yaitu sebanyak 32 (76,2%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan 15 responden (35,7%) berpengetahuan baik, 16 responden (38,1%) berpengetahuan kurang. Praktik menyusui ibu dengan kategori baik sebanyak 26 responden (61,9%) dan kategori tidak baik sebanyak 16 responden (38,1%).

    Tingkatan pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberikan respon. Semakin ibu yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang ada, sebaliknya ibu yang berpendidikan rendah maka akan memberikan respon masa bodoh terhadap informasi. Dengan pendidikan yang rendah baik secara formal maupun informal meyebabkan ibu kurang memahami tentang teknik menyusui yang benar (Notoadmojo, 2003, p.58).

    Pekerjaan ibu akan berpengaruh terhadap cara menyusui yang benar dikarenakan ibu yang bekerja akan mempunyai waktu yang sempit untuk menyusui anaknya sehingga ibu tidak terlalu memperhatikan perawatan terhadap bayinya dan kurangnya kesabaran dalam menyusui bayinya maka kegagalan dalam proses menyusui sering terjadi (Utami Roesli, 2005, p.59).

    Pengetahuan ibu tentang teknik menyusui yang benar sangat penting sebab dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langsung diterima dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoadmojo, 2003, p.118).

    PERBEDAAN INTENSITAS NYERI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN TEKNIK MASASE DAN NAFAS DALAM PADA IBU INPARTU KALA I PRIMI GRAVIDA FASE AKTIF DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN TAHUN 2010 PDFPrintE-mail
    Kamis, 22 Maret 2011 20:01
    PERBEDAAN  INTENSITAS NYERI  SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN TEKNIK MASASE DAN  NAFAS DALAM PADA IBU INPARTU KALA I  PRIMI GRAVIDA FASE AKTIF DI RSUD DR. ZAINOEL ABIDIN TAHUN 2010



    Amalia


    Pain is one of the mothers felt when I primi gravida inpartu active phase. Providing massage and deep breathing techniques can be alternatives to reduce labor pain when I primi gravida inpartu active phase. The purpose of this study was to determine pain intensity difference before and after the massage and breathing techniques in the mother when I primi gravid inpartu active phase. This study uses experimental design to the granting of massage techniques and deep breathing. Population is a mother when I primi gravida inpartu active phase in Dr. Zainoel Abidin in 2010. The experiment was conducted on 03 to 17 December 2010. The sample of 15 respondents, sampling by accidental sampling. Data was collected by observation and interview. Data were analyzed using test with significance level <0.05. Results of research before the intervention, the pain was at 27.0%, severe pain amounting to 73.0% and after the intervention, the pain was at 53.0%, severe pain amounting to 47.0%. The results have a statistical significance test of 0.041, with the conclusion that the massage technique and breath in the first stage in the mother inpartu primi gravid active phase is effective in helping reduce labor pain. Midwives should do massage and breathing techniques in which is an alternative to reduce pain intensity in
    a single package of relief measures for childbirth.

    Key word: level of pain, when I primi gravida inpartu, massage, breath in

    Persalinan adalah peristiwa penting yang sangat ditunggu oleh setiap pasangan suami-istri dan merupakan saat yang akan sangat membahagiakan setiap keluarga. Sayang sekali proses menanti kelahiran ini akan dilalui seorang ibu dengan jam-jam penuh rasa nyeri. Sebagian besar ibu yang  melahirkan, merasakan nyeri persalinan dengan intensitas sangat berat sehingga menjadi sangat menderita. Nyeri saat persalinan selalu timbul akibat dari kontraksi otot rahim, yakni peregangan segmen bawah rahim dan leher rahim, membukanya mulut rahim serta peregangan otot-otot serta jaringan dasar panggul yang membentuk jalan lahir. Nyeri dirasakan sangat berat terutama oleh ibu-ibu yang baru pertama kali mengalami proses persalinan/primipara (Arfian, 2008).
    Nyeri dalam proses persalinan bermanfaat sebagai alarm dan dapat menjadi signal buat ibu untuk mengedan (mengejan). Tetapi bila dorongan mengedan ini muncul sebelum waktunya, dapat menimbulkan efek samping berupa pembengkakan mulut rahim yang menyebabkan proses persalinan normal menjadi terganggu, bahkan akhirnya dapat terjadi persalinan harus dilaksanakan lewat tindakan operasi. Pada sebagian besar ibu-ibu nyeri persalinan merupakan suatu penderitaan, yang tidak jarang akan dirasakan untuk waktu yang cukup lama............................................................... Selain itu nyeri juga akan menimbulkan perubahan-perubahan  fisiologik seperti meningkatnya tekanan darah, naiknya laju denyut jantung, menyempitnya (vasokonstriksi) pembuluh darah (arterial) dengan akibat terganggunya aliran darah ke organ-organ tubuh, meningkatnya aktifitas pernafasan, kehilangan banyak air, dan kelelahan yang sangat. Respon yang ditampilakan pasien pun berbeda - beda, secara verbal ada yang mengeluh dengan cara mengaduh, menangis, dan sesak nafas. Ekspresi wajah yang ditampakkan beragam (meringis, menggeletukkan gigi, menggigit bibir).  Juga dapat terjadi perubahan-perubahan biokimia dan metabolisme tubuh. Karena derita nyeri ini, tidak jarang sebagian ibu-ibu akhirnya memilih jalan pintas mengakhiri proses persalinan lewat tindakan pembedahan (Seksio Caesaria/SC).
    Persalinan normal adalah suatu proses dimana janin cukup bulan, dengan presentasi belakang kepala masuk melalui jalan lahir sesuai dengan kurva partograf normal dan lahir secara spontan (Depkes RI, 2007). Faktor-faktor penting yang memegang peranan pada persalinan adalah: kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu (Power), kekuatan mengedan, kekuatan his tenaga ibu (dipengaruhi oleh sikap dan posisi selama persalinan), keadaan jalan lahir (Passage) dan janinnya sendiri (passanger) (Arfian, 2008).                            . .....Tiga hal penting dan perlu diperhatikan untuk menghilangkan rasa sakit persalinan adalah  keamanan, kemudahan dan jaminan terhadap homeostasis janin. Ibu bersalin yang diberikan analgesia harus dimonitor dengan baik. Menurut Arfian dalam Read (2008), intensitas nyeri persalinan berhubungan dengan tingkat emosional. Beberapa faktor yang berhubungan dengan meningkatnya intensitas nyeri persalinan dan kelahiran adalah Nuliparitas, Induksi Persalinan, Usia Ibu yang masih muda, Riwayat ‘Low Back Pain’ yang menyertai menstruasi dan peningkatan berat badan ibu ataupun janin.
    Nyeri pada persalinan dapat mengontrol dengan menggunakan managemen nyeri, baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Secara non farmakologis yang merupakan kewenangan bidan  ada berbagai tehnik yang dapat dilakukan seperti stimulus dan massage kutaneus, distraksi, terapi es dan panas, hypnoti, masase dan  nafas dalam. Tehnik ini  dapat menurunkan ketegangan fisiologis sehingga akan menurunkan denyut nadi, frekuensi pernafasan dan mengurangi keringat. Kondisi itu akan membuat pasien lebih mampu menghadapi situasi lingkungan yang tidak sesuai dengan harapannya. Tehnik masase dan  nafas dalam adalah sebagian tehnik non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang sangat mudah dilakukan karena praktis tidak memerlukan waktu yang lama dan tanpa menggunakan alat (Wikipedia, 2005). ........ Stress dalam persalinan menyebabkan produksi hormon adrenalin meningkat sehingga mengakibatkan vasokontriksi dan aliran darah dari ibu ke janin menurun.
    Pada janin akan terjadi hipoksia sedangkan pada ibu akan terjadi prolong delivery time (Sehat dalam Longulo, 2002). Bila nyeri persalinan dapat diatasi dengan baik, hormone stress akan menurun dan  mengurangi  kebutuhan
    oksigen hingga 40% ( Falener dalam Longulo, 2002 ).
    Bidan mempunyai peran besar dalam mengurangi nyeri non farmakologi. Intervensi yang termasuk dalam pendekatan non farmakologi adalah analgesia psikologis yang dilakukan sejak awal kehamilan, relaksasi, massage, stimulasi kuteneus, aroma terapi, hipnotis, akupuntur dan yoga (Wong & Perry, 1998).
    Berdasarkan hasil study pendahuluan yang dilakukan di RSUD               dr. Zainoel Abidin pada bulan Oktober 2010, jumlah persalinan  pada bulan Agustus 2010 sebanyak 115 persalinan, dengan rincian sebagai berikut  partus normal 81 orang (Primipara 22 orang dan Multipara 59 orang), SC 18 orang, vakum ektraksi 7 orang dan forcep 5 orang, letsu 4 orang, dan pada bulan September 2010 sebanyak 121 persalinan, partus normal 76 orang (Primipara 25 orang dan Multipara 51 orang), SC 29 orang, vakum ektraksi 4 orang dan forcep 12 orang. Berdasarkan survey diketahui 90% ibu mengeluhkan nyeri akibat persalinan dan sebanyak 84 ibu atau 69% merasakan reda rasa nyeri setelah mendapat massage pada punggung. Banyaknya persalinan melalui tindakan vakum ekstraksi dan forcep disebabkan karena faktor kelelahan akibat  penggunaan energi dalam jumlah yang besar oleh tubuh, atau akibat penggunaan koping yang tidak tepat saat ibu merespon nyeri yang dirasakan pada saat Kala I. Dampak yang dapat terjadi akibat tindakan persalinan vakum ektraksi dan forcep dapat menimbulkan luka atau necrotis pada jaringan di luar tengkorak anak pada tempat pemasangan mangkok dan dapat menimbulkan infeksi apabila syarat asepsis dan anti sepsis kurang diindahkan sedangkan tindakan forcep dapat mengakibatkan luka pada ibu dan anak apabila tidak dilakukan dengan cara yang tepat dan benar (Wiknyosatro, 2007).
    Observasi dan wawancara yang dilakukan di ruang Bersalin RSUD dr. Zainoel Abidin pada tanggal 5 Oktober 2010, pelaksanaan tindakan masase dan nafas dalam dilakukan bidan pada ibu bersalin belum sepenuhnya dilaksanakan untuk mengurangi nyeri persalinan.
    Berdasarkan masalah di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian teknik masase dan nafas dalam pada ibu bersalin kala I di ruangan Mawar RSUD dr.   Zainoel Abidin  tahun 2010”
    Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya perbedaan intensitas  nyeri sebelum  dan sesudah  pemberian  teknik  masase dan nafas  dalam  pada  ibu inpartu kala I primi grafida di ruang Bersalin RSUD. dr.   Zainoel Abidin tahun 2010.

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini menggunakan desain experiment, yaitu  rancangan penelitian yang digunakan untuk mencari sebab akibat dengan adanya keterlibatan peneliti dalam melakukan manipulasi terhadap variable bebas (Nursalam, 2008). Penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian teknik masase dan nafas dalam pada ibu inpartu Kala I primi gravida di ruang Mawar RSUD dr.   Zainoel Abidin  tahun 2010.
    Variabel penelitian ini adalah : variabel independent (pemberian teknik masase dan nafas dalam) dan variabel dependen (intensitas nyeri) (Azwar, 1997).
    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu inpartu Kala I primi gravida fase aktif (pembukaan lebih dari 4 cm) yang  bersalin dalam bulan Desember 2010, data persalinan pada bulan Agustus dan September 2010 sebanyak 236 persalinan, dengan jumlah ibu bersalin  primi gravida fase aktif  sebanyak 47 orang, yang berarti lebih kurang  24 persalinan primi gravida fase aktif per bulan.
    Sampel dalam penelitian ini adalah ibu inpartu kala I primi gravida fase aktif yang bersalin di ruang Bersalin RSUD dr.   Zainoel Abidin . Sampel diambil dengan menggunakan teknik accidentalsampling dengan besar sampel 15 orang.
    Waktu penelitian akan dilakukan pada tanggal 03 – 17 Desember 2010. Penelitian  dilaksanakan di ruang Bersalin RSUD dr.   Zainoel Abidin .
    Data di analisis secara :
    Analisa Univariat
    Analisa univariat dilakukan untuk melihat gambaran atau distribusi frekuensi antara sebelum dan sesudah pemberian teknik masase dan nafas dalam pada ibu inpartu kala I primi gravida, dengan formula

    Analisa Bivariat
    Analisa bivariat merupakan  analisis yang digunanakan untuk melihat perbedaan  antara  variable  independen   dengan  variabel   dependen, dengan menggunakan uji statistic/ uji t (uji beda) berpasangan, dengan tingkat kepercayaan 95% atan ? = 0,05